Jumat, 08 Januari 2010

Riview Buku Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah

REVIEW BUKU

TARIKH TARBIYAH AL – ISLAMIYAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Sejarah Intelektual Pendidikan Islam

Dosen : Prof. Abdurrahman Mas’ud Ph.D

/DR. Saefudin Zuhri, M. Ag.




Disusun Oleh :

KUSNOTO

NIM : 505920012

Psikologi Pendidikan Agama Islam

PASCA SARJANA

IAIN SYEKH NURJATI CIREBON

2009

TARIKH

Judul Buku : Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiah

Penulis : Prof. Dr. A. SYALABI

Penerbit : ANNADLOTUL AL - MIJRIYAN

Cetakan : Ke 5, 1976

Tebal : 400 hal, 21 cm

BAB I Membicarakan tentang sejarah Islam

- Tafsir atau penjelasan sejarah

- Apakah tarikh sebuah Islam

- Filsafat sejarah Islam

- Faidah sejarah Islam

- Penetapan kaum sejarah Islam

- Ilmu sejarah antar tahun Masehi dan Islami

· Sejarah Arab sebelum Islam : Zaman Badui dan zaman sekarang. Kehidupan politik dan ekonomi, dan kemasyarakatan.

- Perjalanan Nabi

- Dakwah Islam dan filsafat

- Zaman Khulafaur Rosyidin

BAB II Daulah Bani Umayah dan perubahan cara berfikir pada zamannya.

BAB III Zaman Abasiyah bersatu perhatiannya dan masa awal berdirinya, perjalanan orang-orang Muslim didalam membantu dunia Islam dan perkembangannya.

BAB IV Islam di Andalusia dan dalam kemajuan Islam ke Eropa dan cara-caranya

- Maghribi ( Jazirah Tunisia – Hibia ) dan munculnya Islam dari sekarang.

- Assamsiyah : awal berdirinya dan sejarahnya.

BAB I

MASALAH TENTANG SEJARAH ISLAM

- Ada dua cara yang biasa dipakai oleh ahli-ahli sejarah Islam, dalam menulis sejarah Islam :

Pertama : mengemukakan peristiwa-peristiwa dengan memakai atau tidak memakai sistem tahunan, tanpa dikomentari atau dianalisa, dan tanpa menyelidiki fakta-fakta yang menyebabkan timbulnya peristiwa-peristiwa itu.

Kedua : Hanya mementingkan komentar dan analisa satu-satu peristiwa dari peristiwa itu sendiri.

Ahli sejarah zaman dahulu menulis sejarah Islam memakai cara pertama, sedangkan ahli-ahli sejarah zaman belakangan memakai cara kedua.

- Tafsir atau penjelasan sejarah

Contoh ayat dan tafsir yang berkenaan dengan sejarah yang menceritakan tentang rapat yang diadakan oleh kafir Quraisy sebelum Nabi berhijrah ke Madinah.

Ingatlah tatkala orang-orang kafir mengatur tipu daya terhadapmu untuk melawanmu, atau membunuhmu atau mengusirmu, mereka mengatur tipu daya, akan tetapi Tuhanpun mengatur tipu daya pula, dan Tuhanlah yang paling pandai mengatur tipu daya.

( Al-anfal30 )

- Tarikh juga merupakan sebuah ilmu karena sejarah Islam yang ditulis oleh ahli-ahli sejarah dalam karangan atau buku-buku yang ditulis oleh para ahli sejarah akan dipelajari oleh generasi berikutnya, maka agar dapat dipahami dan dipelajari harus dibukukan agar menjadi ilmu yang dapat dipelajari.

- Filsafat sejarah Islam, mempunyai dua cabang.Cabang pertama berkenaan dengan kalangan orang-orang yang mengerti Bahasa Arab, yang kedua lebih umum, yaitu berkenaan dengan orang-orang Islam yang mengerti Bahasa Arab dan yang tidak mengerti Bahasa Arab.

- Faidah atau manfaat mempelajari sejarah Islam

· Mengerti dan mengenal sejarah Islam dari zaman periode pertama sejarah Islam sampai sekarang.

· Menganalisa peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam, dengan sedikit luar mendalam, contoh menganalisa antara peperangan dengan penyiaran Islam dan sebagainya.

· Menganalisa sejarah pendidikan Islam dari awal yaitu zaman Nabi hingga sekarang.

- Penetapan Kaum Sejarah Islam

Penetapan kaum sejarah Islam dimulai dari perjuangan Rasulallah menyebarkan agama Islam periode Mekah, Madinah hingga sekarang.

- Penulisan tentang sejarah Islam

Ditulis berdasarkan peristiwa-peristiwa penting yang ada beberapa kiranya dalam kehidupan Islam.

Beberapa yang penting dari dunia Islam yang telah dimasuki oleh Islam sejak …….tahun yang lalu.

* Ilmu sejarah Arab sebelum Islam, zaman Badui hingga zaman sekarang, kehidupan politik, ekonomi dan kemasyarakatan.

Sebelum Islam berkembang di Arab telah hidup manusia yang menyembah berhala namanya zaman jahiliyah ( artinya zaman kebodohan tidak tahu ajaran Islam, sehingga sampai ada yang berani membunuh anaknya hidup-hidup ).

Kehidupan politik, ekonomi dan kemasyarakatan laksana di tengah hutan belantara juta siapa yang kuat siapa itu yang menang. Islam zaman sekarang beberapa yang berilmu, jujur, bertanggung jawab, dan sebagainya itu yang jadi pemimpin.

- Perjalanan Nabi

Nabi Muhammad sejak dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul Awal (20 April 571 M), sebelum dilahirkan ayahnya telah meninggal dunia ( yatim ). Kemudian diasuh oleh neneknya bernama Abu Muthalib. Ayahnya bernama Abdullah, ibunya Siti Aminah.

Ia waktu kecil disusui oleh Halimatus Sa’diah, kemudian Abdul Muthalib meninggal diasuh oleh pamanya yaitu Abu Thalib. Umur 25 tahun menikah dengan seorang janda kaya bernama Siti Khadijah umur 40 tahun. Umur 40 tahun diangkat jadi Rasul. Mulai berdakwah di Mekah 13 tahun dan di Madinah 10 tahun, kemudian wafat.

Dakwah Islam pada awal Nabi Muhammad bersifat sederhana yaitu yang pertama pada keluarga Nabi yang dekat, lama-lama ke masyarakat banyak waktu di Mekah, setelah dirasakan kurang berhasil, pindah ke Madinah.

Rasakan Dengan setelah Nabi wafat diteruskan oleh Khulafaur Rosyidin, di bawahnya yang kemudian lahirlah para pemimpin-pemimpin Islam.

Zaman Khulafaur Rosyidin 11 – 40 H ( 632 - 661 M )

A. Abu Bakar namanya Abdullah Ibnu Abi Quliafah Tamimi. Di masa jahiliyah bernama Abdul hibah.Abu Bakar artinya pagi – pagi betul masuk islam Ashidiq karena amat benar membenarkan Rasulallah.

Pembaitan Abu Bakar sesudah Rasulallah wafat, kaum Anshar menghendaki agar orang yang akan jadi khalifah adalah beliau :

Yang di perioritaskan oleh Abu bakar :

- Masalah zakat

- Perluasan Islam di masanya

Tak lama kemudian menunggal dunia

B. Umar bin Khatab 13 – 32 ( 634 – 644 M )

Umar bin Khatab putera dari Nufail Al-Quraisy dari suku Bani adi. Umar tekenal sebagai seorang yang pemberani, tak gentar, mempunyai ketabahan.

Islam waktu itu mulanya lemah berkat do’a Rasulallah

“ Ya Allah! Kuatkanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang Umar, yaitu Amir Ibnu Hisyam atau Umar Ibnu Khattab.

Umar diangkat jadi khalifah dari musyawarah, dan Abu Bakar menunjuk Umar bin Khathab.

Usaha – usaha Umar bin Khatab :

- Perluasan Islam

- Pertempuran-pertempuran Persia dan Romawi, Ajnadain, Danaskus, Yarmule, Mesir, Babilon, Iskandariyah

- Umar pembangun negara Islam

Umar bin Khatab terbunuh

Abu Jeiluah berhasil menyelusup ke dalam masjid, Umar hendak memulai Shalat Subuh dibunuh dengan pedang oleh Abu Jeiluah

C. Usman bin Affan 23 – 35 H ( 644 – 656 M )

Ibnu Abil ash Ibnu Umayah Islam Usman yang perlain dan yang kedua adalah putri Rasulallah yaitu Ruqoyah dan Umi Kulsum, terkenal dengan sebutan Dzun Nurain yaitu mempunyai dua cahaya ( Ruqoyah dan Umi Kulsum ).

Usaha Perluasan Islam

1.

2.Perluasan Islam

Akhir hayatnya diserang oleh kaum pemberontak masuk di rumah khalifah Usman yang saat itu Usman sedang membaca Al-Qur’an dan akhirrnya dibunuh oleh kaum pemberontak.

D. Ali Ibnu Abu Thalib 35 – 40 H ( 656 – 661 M )

Beliau adalah anak dari Abdul Muthalib, putri dari paman Rasulallah dan suami dari Putri beliau Fatimah, satu – satunya putri Rasulallah yang mempunyai keturunan, sejak kecil sudah masuk Islam.

Ali Di miat

Diangkat menjadi Khalifah setelah pertimbangan-pertimbangan beberapa orang dan dipilihlah Ali menjadi Khalifah.

Politik Ali bin Abi Thalib

- Memecat kepala-kepala daerah yang diangkat Usman

- Mengambil tanah-tanah yang dibagi=bagikan Usman kepada famili-famili dan kembang Beberapa Peperangan zaman Ali

- Perang Jamal

- Perang Shiffin

- Perang Shiffin

Akhir Hayat Ali Bin Abi Thalib

yang bernama Ibnu Mul berangkat ke Kuffah untuk membunuh Ali, Usaha Ibnu menusuk pedang ke Ali Bin abi Thalib berhasil waktu beliau sedang memanggil orang untuk shalat Subuh, dan dengan meninggalnya Ali berarti akhir masa pemerintahan Ali.

BAB II

DAULAH BANI UMAYAH DA PERUBAHAN CARA BERFIKIR PADA ZAMANNYA

( Kerajaan Bani Umayah ) 41 – 132 H

- Asal usul Nama Daulah Umayah

Nama Daulah Bani Umayah berasal dari nama “ Umaiyah ibnu Abdi Syams Ibnu Abdi Manaf, yaitu salah dari seorang pimpinan-pimpinan kabilah Quraisy di zaman jahiliyah.

- Perubahan cara berfikir pada zamannya

Masa pemerintahan Bani Umayah walau tidak berlangsung lama tetapi mempunyai keistimewaan dengan adanya gerakan-gerakan dalam bidang pikiran dan gerakan revolusi masa ini merupakan masa yang paling bagus Bagi revolusi-revolusi ipy terjadi pada alam pikiran, gerakan –gerakan itu ialah

  1. Gerakan kaum Syiah
  2. Pemberontakan Abdulah Ibnu Zakaria
  3. Gerakan-gerakan kaum khuwarij
  4. Mu’tonlah, Jabariyah, dan Marjiah

Jadi dari gerakan-gerakan itu menimbulkan pembaharuan-pembaharuan yang ermanfaat untuk sejarah pendidikan Islam

.

BAB III

ZAMAN ABASIAH DAN

- Awal berdirinya Dinasti Abasiah dimulai dari persaingan antara Umayah bin Abdi Syam dengan Hasyim bin Abdul Manaf. Hasyim merencanakan sebuah keinginan jangka panjang untuk menggulingkan pemerintah Dinasti Umayah di Domaskar Bani Abas telah memulai melakukan upaya perebutan kekuasaan Sejak masa khalifah Umar bin Abdul Zali Berkuasa ( 99 – 101 H / 717 – 720 M )

- Langkah- langkah Dinasti Alnasiah dengan cara :

  1. Membentuk gerakan bawah tanah
  2. Menerapkan politik bersahabat dengan Dinasti Umayah, adanya keturunan Arab tidak memperlihatkan sikap bermusuhan denagn Dinasti Umayah.
  3. Dalam gerakan tidak menggunakan golongan Bani Abas tetapi dengan nama Bani Hasyim.Pengguaan itu bertujuan agar pendukung Ali bin Thalib tetap mendukung perjuangan Bani Abas.
  4. Menetapkan wilayah kekuasaan sebagai pusat kegiatan politik gerakan Bani abas yang dipimpin oleh Abu Muslimin.

Tokoh Pendiri Dinasti

  1. Muhammad bin Ali
  2. Ibrahim bin Muhammad bin Ali
  3. Abu Abbas as-syafah
  4. Abu Jafar Al mansur
  5. Abu Muslim Al-Kunasani

BAB IV

ISLAM DI ANDALUSIA DAN KEMAJUANNYA

1. Perkembangan Islam di Spanyol atau Andalusia

Masuknya Islam ke Spanyol atau Andalusia

Sebelum Islam datang, semenanjung Andalusia ini bernama Iberio, penduduk tertua di semenanjung tersebut. Dulu bernama Vandalusia, mengambil nama suku yang ketika kaum muslimin sampai ke daerah itu, mereka memberi nama Al Andalusia

2. Kemajuan peradaban Islam di Spanyol atau Andalusia

Selama tujuh abad jelih ( tahun 93 – 898 H / 713 – 1492 M ) Andalusia dibawah kekuasaan umat Islam telah mencapai kejayaan yang Gemilang sampai ke Eropa bahkan sampai ke seluruh dunia. Kemajuan-kemajuan yang dicapai meliputi :

  1. Kemajuan Intelektual dan kemajuan pembangunan fisik.
  2. Filsafat

Merupakan jembatan penyeberangan ilmu penjelasan Yahudi – Arab ke Eropa. Filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke 9 M. masa Pendidikan penjuaraan Bani Umayah Muhammad bin Abdurrahman ( 832 – 886 )

B. Sains

Di bidang Sains seperti ilmu kedokteran, musik, astronomi, kimia dan sebagainya.

C. Fiqih

Ulama fiqih terkenal dari Spanyol (Zifah bin Abdurohim, Ibnu Yahya Ibnu, Abu

Bakar Ibnu Al Quthiyah, Munzir Ibnu Said Al-balath dan Ibnu hasan

D. Musik dan Kesenian

Di bidang musik dan seni suara yang sangat cemerlang dengan munculnya seorang

pemusik terkenal bernama Hasan bin Nar Lebih dikenal dengan nama Zaryah.

E. Bahasa dan Sastra

Bahasa Arab sudah menjadi bahasa rresmi dan bahasa administrasi dalam

pemerintahan Spanyol

2. Kemajuan Pembangunan Fisik

- Di daerah-daerah dibangun jalan-jalan dan pasar-pasar, bidang perekonomian di

bangun sekunder tersier.

- Di bidang Industri dibangun-bangun pabrik tekstil, kayu-kulit, logam dan barang-

barang tembikan.

- Pembangunan Isria Jafariyah di Saragosa, tembak di Toledo, Istana dan maknum

Masjid di Savile dan istana hamra di gronada

3. Beberapa penyebab Kemunduran Islam di Spanyol atau Andalusia ada dua hal :

a. Dari dalam

1. Hilangnya persatuan dan kesatuan kaum muslimin

2. Kaum muslimin lebih mementingkan dunia dari pada agama

3. Adanya bermacam-macam masalah-masalah dalam agama

4. Khalifah kurang bermusyawarah dengan rakyatnya

b. Dari luar

1. Banyaknya Negara-negara Barat dengan penemuan-penemuan benua baru

2. Terjadinya pembantaian terhadap umat Islam.

KESIMPULAN

Sejarah pendidikan Islam, sejarah yang menerangkan tentang pendidikan Islam dan peristiwa-peristiwa dengan menganalisa peristiwa dari zaman dahulu untuk diambil hikmah dan manfaatnya sekarang

Sejarah pendidikan Islam dimulai dari Rasulallah, zaman Khulafaur Rosyidin seterusnya hingga sekarang.

Para Khulafaur Rosyidin Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Thalib dan pelaku sejarah dalam Islam yang patut kita teladani dan kita tiru hal-hal yang tahlip

Revolusi pada zaman Bani Umayah adanya qurbansiah, Kaum khuwarij, dan adanya mutaziah

Pada zaman Albasiah Memberitahukan gerakan-gerakan :

Gerakan bawah tanah, politik bersahabat, tidak menggunakan Dinasti Umayah.

Islam di Andalusia termasuk masa kejayaan Islam dan penduduk Islam didalam kemajuan di Andalusia.

Filsafat, sains, fiqih, musik, bahasa sastra, selain itu pembangunan fisikpun maju

Kemajuan di Andalusia disebabkan 2 hal yaitu factor internal dan external

Pendekatan Antropologi Dalam Perpektif Islam

PENDEKATAN ANTROPOLOGI

DALAM KAJIAN ISLAM

MAKALAH

Studi Islam

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mandiri

Pada Program Studi Pendidikan Islam

Dosen : Prof. Dr. Adang Djumhur S., M.Ag.

Oleh :

Kusnoto

NIM : 505920012

Psikologi Pendidikan Islam (PPI)

PASCASARJANA

IAIN SYEKH NURJATI CIREBON

2009 / 2010

PENDEKATAN ANTROPOLOGI

DALAM KAJIAN ISLAM

Oleh. Kusnoto

Antropologi, sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia, menjadi sangat penting untuk memahami agama. Antropologi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk dapat memahami perbedaaan kebudayaan manusia. Dibekali dengan pendekatan yang holistik dan komitmen antropologi akan pemahaman tentang manusia, maka sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnya dengan berbagai budaya. Nurcholish Madjid mengungkapkan bahwa pendekatan antropologis sangat penting untuk memahami agama Islam, karena konsep manusia sebagai ‘khalifah’ (wakil Tuhan) di bumi, misalnya, merupakan simbol akan pentingnya posisi manusia dalam Islam. Posisi penting manusia dalam Islam juga mengindikasikan bahwa sesungguhnya persoalan utama dalam memahami agama Islam adalah bagaimana memahami manusia. Persoalan-persoalan yang dialami manusia adalah sesungguhnya persoalan agama yang sebenarnya. Pergumulan dalam kehidupan kemanusiaan pada dasarnya adalah pergumulan keagamaannya.

Para antropolog menjelaskan keberadaan agama dalam kehidupan manusia dengan membedakan apa yang mereka sebut sebagai common sense dan religious mencatau mystical event. Dalam satu sisi common sense mencerminkan sehari-hari yang biasa diselesaikan dengan pertimbangan rasional ataupun dengan bantuan teknologi, sementara itu religious sense adalah kegiatan atau kejadian yang terjadi di luar jangkauan kemampuan nalar maupun teknologi. Penjelasan lain misalnya yang diungkapkan oleh emile Durkheim tentang fungsi agama sebagai penguat solidaritas sosial, atau Sigmund Freud yang mengungkap posisi penting agama dalam penyeimbang gejala kejiwaan manusia, sesungguhnya mencerminkan betapa agama begitu penting bagi eksistensi manusia. Walaupun harus disadari pula bahwa usaha-usaha manusia untuk menafikan agama juga sering muncul dan juga menjadi fenomena global masyarakat. Dua sisi kajian ini, usaha untuk memahami agama dan menegasi eksistensi agama, sesungguhnya menggambarkan betapa kajian tentang agama adalah sebagai persoalan universal manusia.

Dengan demikian memahami Islam yang telah berproses dalam sejarah dan budaya tidak akan lengkap tanpa memahami manusia, karena realitas keagamaan sesungguhnya adalah realitas kemanusiaan yang mengejawantah dalam dunia nyata. Terlebih dari itu, makna hakiki dari keberagamaan adalah terletak pada interpretasi dan pengamalan agama. Oleh karena itu, antropologi sangat diperlukan untuk memahami Islam, sebagai alat untuk memahami realitas kemanusiaan dan memahami Islam yang telah dipraktikan-Islam that is practiced-yang menjadi gambaran sesungguhnya dari keberagaman manusia.

Di Indonesia usaha para antroplog untuk memahami hubungan agama dan sosial telah banyak dilakukan. Barangkali karya Clifford Geertz The Religion of Java yang ditulis pada awal 1960an menjadi karya yang popular sekaligus penting bagi diskusi tentang agama di Indonesia khususnya di Jawa. Pandangan Geertz yang menungkapkan tentang adanya trikotomi abangan, santri dan priyayi di dalam masyarakat Jawa, ternyata telah mmpengaruhi banyak orang dalam melakukan analisis baik tentang hubungan antara agama khususnya Islam dan budaya di jawa, pandangan Geertz telah mengilhami banyak orang untuk melihat lebih mendalam tentang interrelasi antar keduanya. Keterpengaruhan itu bisa dilihat dari beberapa pandangan yang mencoba menerapkan kerangka berfikir Geertz ataupun mereka yang ingin melakukan kritik terhadap wacana Geertz. Pandangan trokotomi Geertz tentang pengelompokan masyarakat Jawa berdasar religiokulturalnya berpengaruh terhadap cara pandang para ahli dalam melihat hubungan agama dan polotik. Penjelasan Geertz tentang adanya pengelompokan masyarakat Jawa ke dalam kelompok sosial politik didasarkan pada orientasi ideolog keagamaan.

Walaupun Geertz mengkelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga kelompok, ketika dihadapkan pada realitas polotik, yang jelas-jelas menunjukan oposisinya adalah kelompok abangan dan santri. Pernyataan geertz bahwa abangan adalah kelompok masyarakat yang berbasis perdagangan dan priyayi yang dominant didalam birokrasi, ternyata mempunyai afiliasi politik yang berbeda. Kaum abangan lebih dekat dengan partai politik yang isu-isu kerakyatan priyayi dengan partai nasional, dan kaum santri memilih partai-partai yang memberikan perhatian besar terhadap masalah keagamaan.

Teori polittik aliran ini, menuarut bahtiar effendy memberikan arti penting terhadap wancana tentang hubungan antara agama khususnya agama Islam dan Negara. Teori politik aliran dapat digunakan untuk memberikan penjelasan yang baik mengenai salah satu dasar (basis) pengelompokan religio-sosial di Indonesia. Karya Geertz ini ini disebut untuk sekedar memberikan ilustrasi bahwa kajian antropologi di Indoesia telah berhasil memberikan wancana tersendiri tentang hubungan agama dan masyarakat secara luas.

Antropologi yang melihat langsung secara langsung secara detail hubungan langsung antara agama dan masyarakat dalam tataran grassroot memberikan langsung informasi yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat. Melihat agama dimasyarakat, bagi antropologi adalah melihat bagaimana agama dipraktikan, diinterprestasi , dan diyakini oleh penganutnya. Jadi pembahasan tentang bagaimana hubungan agama dan budaya sangat penting untuk melihat agama yang dipraktikan. Kepentingan untuk melihat agama dalam masyarakat juga sangat penting jika dikaitkan dengan wancana posmodemisme yang berkembang belakangan ini. Walaupun para ilmuwan sosial masih mendebatkan apakah yang disebut sebagai posmodermis adalah “Fenomena” atau sebuah kerangka “discontruction theory”, mereka bersepakat tentang bangkitnnya dalam arti diakuinya kembali local knowledge sebagai sebuah kebenaran. Budaya lokal dalam percaturan dunia global. Bagi ahli politik, misalnya apa yang di sinyalir oleh fukuyama dengan klaimnya The End of History and the last Man, globalisasi berarti adalah diterimanya sistem demokrasi liberal sebagai satu sistem yang baik dipakai.

Bagi ahli ekonomi, wujudnya sistem moneter ala Keynesian telah membuktikan bahwa dunia perekonomian menganut satu sistem. Penggunaan alat telekomunikasi dan computer dengan internetrnya dapat juga membuktikan bahwa globalisasi telah mencapai pada satu kesepakatan bersama. Namun bagi ilmu sosial, utamanya mereka yang terlibat langsung urusan dengan budaya seperrti antropologi, globalisasi mengimplikasikan makna yang lain. Terbukanya komunikasi dan ruang bagi dialog antar budaya memungkinkan masing-masing budaya untuk mengungkapkan atau memberikan alternatif terhadap kebenaran. Ungkapan terkenal James Clifford tentang runtuhnya : mercusuar “ untuk mengklaim suatu kenyataan dengan ukuran rasionalitas barat, menunjukan bangkitnya “ pengetahuan lokal “ di era posmoderisme. Artinya pertanyaan apakah globalisasi nanti akan juga menyatukan budaya dunia atau munculnya kembali budaya-budaya lokal dalam pertarungan dunia, menjadi sangat penting.

Bassam Tibi mengungkapkan bahwa globalisasi memungkinkan manusia untuk melakukan dialog antar kebudayaan yang ada di dunia. Ia mengakui bahwa fenomena demokrasi adalah fenomena universal yang mau tidak mau mempengaruhi masyarakat lain yang tidak mempunyai tradisi demokrasi untuk mengadopsinya. Namun demikian hal itu tidak berarti bahwa budaya-budya lokal harus menyerah dan digantikan total dengan demokrasi. Bassam Tibbi tidak menafikkan bahwa ada perbedaan-perbedaan yang nyata antara penafsiran demokrasi di barat dan di wilayah lain sehingga muncul adanya demokrasi asia ( Asian Democracy ) atau demokrasi Islam ( Islamic Democracy ) . tetapi perbedaan itu bukan berarti akan menimbulkan konflik seperti apa yang disinyalir oleh Samuel hunting Ton. Ia lebih optimis melihat perbedaan itu sebagai awal dari keharusan untuk mengadakan dialog antar budaya untuk menularkan yang ia sebut sebagai “ international Morality “, suatu sistem nilai yang dihasilkan dari gabungan nilai-nilai terbaik dari budaya-budaya yang ada.

Jika kembali pada persoalan kajian antropologi bagi kajian islam maka dapat dilihat relevansinya dengan melihat dari dua hal. Pertama, penjelasan antropologi sangat berguna untuk membantu mempelajari agama secara empirik, artinya kajian agama harus diarahkan pada pemahaman aspek-aspek social kontexs yang melingkupi agama. Kajian agama secara empiris dapat diarahkan kedalam dua aspek yaitu manusia dan budaya. Pada dasarnya agama untuk membantu manusia untuk dapat memenuhi keinginan-keinginan kemanusiaan dan sekaligus mengarahkan kepada kehidupan yang lebih baik. Hali ini jelas menunjukan bahwa persoalan agama yang harus diamati secara empiris adalah tentang manusia. Tanpa memahami manusia maka pemahaman tentang agama tidak menjadi sempurna. Kemudian sebagai akibat dari pentingnya kajian manusia, maka mengkaji budaya dan masyarakat yang melingkupi kehidupan manusia juga menjadi sangat penting. Kebudayaan, sebagai system of meaning yang memberikan arti bagi kehidupan dan perilaku manusia, adalah aspek esensial manusia yang tidak dapat dipisahkan dalam memahami manusia. Mengutip Max Weber bahwa manusia adalah makhluk yang terjebak ke dalam jaring-jaring (web) kepentingan yang mereka buat sendiri, maka budaya adalah jaring-jaring itu. Geertz kemudian mengolaborasikan pengertian kebudayaan sebagai pola makna ( Petren of Meaning ) yang diwariskan secara histories tersimpan dalam simbol-simbol yang dengan itu manusia kemudian berkomunikasi, perilaku dan memandang kehidupan. Oleh karena itu analisis tentang kebudayaan dan tradisi antropologi tidaklah berupaya menemukan hokum-hukum seperti di ilmu-ilmu alam, melainkan kajian interpretative untuk mmencari makna ( meaning ).dipandang dari makna kebudayaan yang demikian maka agama sebagai sebuah sistem makna yang tersimpan dalam simbol-simbol suci sesungguhnya adalah pola makna yang diwarisi manusia sebagai etos dan juga worldviewnya. Clifford Geertz mengartikan etos sebagai : tone karakter dan kualitas dari kehidupan manusia yang berarti juga aspek moral maupun estetika mereka. : bagi Geertz agama telah memberikan karakter yang khusus bagi manusia yang kemudian mempengaruhi tingkah laku kesehariannya disamping itu agama meberikan gambaran realitas yang hendak dicapai oleh manusia. Berdasar pada pengertian ini agama sebagai etos telah memberikan karakter yang khusus bagu manusia, yang kemudian bisa memenuhi gambaran realitas kehidupan ( worldview )yang hendak dicapai oleh manusia.

Kedua kajian antropologi juga memberikan fasilitas bagi kajian islam untuk lebih melihat keagamaan pengaruh budaya dalam praktik islam. Pemahaman realitasnya nyata dalam sebuah masyarakat akan menemukan suatu kajian islam yang lebih empiris kajian agama dan rose kultur akan memberikan gambaran yanag variatif tentang hubungan agama dan budaya. Dengan pemahaman yang luas akan budaya-budaya yang ada memungkinkan kita untuk melakukan dialog dan barangkali tidak mustahil memunculkan satu gagasan moral dunia seperti apa yang di sebut Tibbi sebagai “ Internatioonal Morality”

Tradisi Antropologi dalam Kajian Agama

Bagi seorang antropolog, pentingya agama terletak pada kemampuanya untuk berlaku bagi seorang individu atau sebuah kelompok sebagai sumber konsep umum namun jelas, tentang dunia, diri, dan hubungan-hubungan diantara keduanya, disatu pihak yaitu dari segi agama itu, dan dilain pihak sumber disposisi_pihak, yaitu model dari segi agama itu, dan di lain pihak sumber disposisi-disposisi “mental” yang berakar, yang tak kurang jelasnya, yaitu model untuk segi agama itu.

Memahami bagaiman pandangan-pandangan manusia, betapapun tesiratnya tentang yang “sungguh nyata” dan disposisi-disposisi yang ditimbulkan dalam diri mereka mewarnai pengertian mereka akan masuk akal yang praktis, yang manusiawi dan yang bersifat moral. Sejauh mana pandangan-pandangan itu mewarnai hal-hal itu ( karena dalam banyak masyarakat efek-efek agama tempaknya terbatas, dalam masyarakat-masyarakat lain menguasai segalanya), seberapa dalamya pandangan-pandangan itu mewarnai hal-hal itu (karena beberapa orang dan beberapa kelompok orang tampaknya memakai agama mereka seenaknya saja sejauh dunia seular berjalan, sementara yang lain-lainnya tampak menerpakan iman mereka pada setiap kesempatan, tak peduli betapapun sepelehnya); dan beberapa efektifnya pandangan-pandangan itu mewarnai hal-hal itu ( karena lebarnya jurang antara apa yang dikehendaki agama dan apa yang dinyatanya dilakukan seorang merupakan sesuatu yang bervariasi dari kebudayaan-kebudayaan) semua ini merupakan soal-sioal yang sangat penting dalam sosialogi komperatif dan psikologi agama. Bahkan taraf perkembaangan sistem-sistem religious itu semakin amat bervariasi, dan tidak semata-mata berdasarkan pada suatu basis evolusioner sederhana.

Dalam satu masyarakat, taraf penjelasan rumusan-rumusan simbolis tentang kualitas akhir bisa mencapai taraf-taraf kompeksitas dan uraian sistematis yang luar biasa; dalam masyarakat-masyarakat lainnya yang secara tak kurang berkembangnya, perumusan-perumusan itu tetap tinggal primitive dalam arti sesungguhnya, hamper tidak lebih dari pada tumpukan-tumpukan kepercayaan-kepercayaan awal yang fragmentis dan gambaran-gambaran yang terisolasi, tentang refleks-refleks yang dikeramatkan dan piktograf-piktograf spiritual.

Studi antropologis mengenai agama dengan demikian merupakan suatu operasi dua tahap. Pertama, suatu analisis atas sistem makna-makna yang terkandung di dalam symbol- simbol yang meliputi agama tertentu, dan kedua, mengaitkan sistem-sistem ini pada struktur sosial dan proses-proses psikologis.

Daftar Pustaka

Islamic College for Advanced Studies, Jkarta.

Murtada Mutahari, 1998, Perspektif Al Qur’an Tentang Manusia dan Agama, Bandung, Mizan.

Nurcholis Madjid, 2000, Islam Agama Peradaban, Jakarta, Paramadina.

Sabtu, 26 Desember 2009

PENGELOLAAN PENDIDIKAN ISLAM

Rincian

Makalah

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Sejarah Intelektual Pendidikan Islam

Dosen : Prof.H. Abdurrahman Mas’ud Ph.D




Disusun Oleh :

KUSNOTO

Nim : 505920012

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

CIREBON

2009

PENDAHULUAN

Perjalanan pendidikan Islam di Indonesia, yang sampai saat ini, masih menduduki rangking kurang begitu bagus dibanding Negara-negara lainnya. Penulis mensenyalir hal ini salah satunya diakibatkan oleh kurangnya perhtian pemerintah pusat dan menitik beratkan pembangunan pada sector ekonomi. Fenomena ini pada giliranya telah menyebabkan pembangunan jiwa dan mental bangsa menjadi termarjinalkan. Pendidikan ekonomi tanpa didukung dengan pendidikan moral yang kuat hanya akan memunculkan pemimpin-pemimpin yang berpenyakit kronis. Harapanpun telah tiba, dengan dinaikannya anggaran pendidikan (20 %) , sudah siapkah mental para pengelola pendidikan?

Indonesia adalah sebuah Negara besar yang memiliki penduduk ratusan juta jiwa, Indonesia juga adalah Negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Menurut sebuah perhitungan manusia muslm Indonesia adalah jumlah pemeluk agama Islam terbesar didunia. Jika dibanding dengan Negara-negara muslim lainnya, maka penduduk muslim di Indonesia dari segi jumlah tidak ada yang menandingi. Jumlah yang besar tersebut sebenarnya merupakan sumber data manusia dan kekuatan yang sangat besar, bila mempu di Optimalkan peran dan kualitasnya jumlah yang sangat besar tersebut juga mampu menjadi kekuatan sumber ekonomi yang luar biasa. Jumlah yang besar diatas juga akan menjadi kekuatan politik yang cukup signifikan dalam percaturan nasional.

Pengelolaan Pendidikan Islam meliputi :

  1. Sejarah Singkat Pendidikan Islam
  2. Sistem Pendidikan Terpadu
  3. Transformasi Pemikiran dan Tanggung Jawab Negara.

Pengelolaan Pendidikan Islam

  1. Sejarah singkat pendidikan Islam

Pendidikan Islam Yang didalam hal ini dapat diwakili oleh Pendidikan meunasah atau dayah, surau, dan pesantren diwakili sebagai pendidikan tertua di Indonesia. Pendidikan-pendidikan ke 3 Institusi di atas memiliki nama yang berbeda akan tetapi memilki pemahaman yang sama baik secara Fungsional, subtansial, Operasional, dan mekanikal. Secara fungsional trilogy system pendidikan tersebut dijadikan sebagai wadah untuk menggembleng mental dan moral di samping wawasan kepada para pemuda dan anak-anak untuk dipersiapkan menjadi manusia yang berguna bagi agama, masyarakat. Dan Negara. Secara substansial dapat dikatakan bahwa trilogy sistem pendidikan tersebut merupakan panggilan jiwa spiritual dan religius dari para tengku, buya, dan kyai yang tidak didasari oleh motif materil, akan tetapi murni sebagai pengabdian kepada Allah secara Operasional trilogy sistem pendidikn tersebut muncul dan berkembang dari masyarakat, bukan sebagai kebijakan, Proyek apalagi perintah dari para sultan, raja, atau penguasa. Secara mekanikal bisa dipahami dari hasil pelacakan histories bahwa trilogy sistem pendidikan diatas tumbuh secara alamiah dan memiliki anak-anak. Cabang yang dari satu induk mengembang ke berbagai lokasi akan tetapi masih ada ikatan yang kuat secara emosional, intelektual, dan kultural dari Induknya.

  1. Sistem Pendidkan yang terpadu

Umat Islam sudah waktunya kembali kepada semangat pendidikan seumur hidup yang telah dicanangkan oleh Rasulullah SAW, sejak 14 abad silam. Banyak titah Rasulullah saw. Yang menyemangati umat islam akan pentingnya hidup bergemilang pengetahuan. Titah Rasul yang cukup terkenal adalah perintah menuntut ilmu bagi setiap muslim dan muslimah sejak saat dalam buaian sampai masuk keliang lahat. Demikian pula alqur’an telah dengan jelas-jelas mengingatkan kita supaya jangan meninggalkan generasi yang lemah baik dalam keimaman materi, kesehatan, maupun pendidikan (QS. 49) hal ini sudah sewajarnya memicu kaum muslim bersikap dengan dimensi yang lebih luas dalam beragama terutama dalam mengahadapi masalah pendidikan. Artinya, pendidikan harus dirajut sebgai bagian dari ibadah-ibadah yang utama mahdlah walaupun status hukumnya ghoir mahdlah.

Dengan demikian misalnya seorang yang telah pernah melaksanakan ibadah haji tidak perlu ngotot perlu haji lagi sementara disekitarnya masih banyak anak-anak usia sekolah atau lembaga pendidikan yang tak terurus . biaya perjalanan haji akan lebih baik ditanamkan dalam membenahi sistem pendidikan dilingkungannya. Untuk itu memeng di butuhkan cakrawala keberagamaan yang lebih lebar, yang mewujud dalam keyakinan bahwa kemuliaan seseorang sebgai hamba Allah akan pula diraih tidak hanya melalui ketekunan menjalakan ibadah individual namun dapat pula diraih dengan ibadah komunal .

  1. Transformasi pemikiran dan tanggung jawab Negara

Pendidikan hingga saat ini menjadi satu-satunya yang paling efektif untuk melakukan transformasi gagasan. Perubahan pemikiran yang terjadi ditengah-tengah masyarakat banyak dilakukan melalui jalur ini. Isue-isue demokrasi, pluralisme multikulturalisme, kerukunan beragama dan sebagainya kerapkali disampaikan kepada masyarakat melalui jalur pendidikan. Pendidikan dan konteks ini tidak semata pendidikan formal yang selama ini terjadi diruang-ruang kelas. Tetapi proses pendidikan yang dijalankan banyak melaui forum-forum non formal, seperti dialog, seminar, mejelis-majelis taklim dimana gagasan yang dibawa disusupkan secara perlahan. Selama ini metode transformasi gagasan seperti ini sangat efektif dan cukup memberikan dampak signifikan terlebih dengan dukung teknologi informasi dan komunikasi yang mampu menyebarkan gagasan tersebut secara masih kepada masyarakat luas dalam waktu yang sangat cepat.

Pendidikan Jalur formal yang selama ini diselenggarakan secara resmi oleh lembaga-lembaga pendidikan dapat pula, bahkan memiliki potensi yang cukup besar, untuk mentransformasikan gagasan dalam sebuah disain besar perubahan masyarakat karena itu untuk mengetahui seberapa kualitas SDM dalam sebuah Negara dapat diketaui dari kualitas pendidikan yang diselenggarakan, lebih khusus dapat diketahui dari kurikulum yang dipergunakan dalam lembaga pendidikan tersebut. Sebab dalam kurikulum itulah berisi nilai-nilai ataupun gagasan-gagasan yang hendak ditularkan kepada peserta didik. Jika gagasan yang ditularkan bermasalah maka outputnyapun akan bermasalah.

KESIMPUILAN

  1. Memasuki masa kemerdekaan Pendidikan Islam terus berkutat dengan sistem pendidikan modern (Peninggalan Belanda). Sistem pendidikan ini dipelopori oleh para tokoh pendidikan yang telah mengenyam sistem pendidikan Belanda atau Barat. Oleh karena itu menjadi sangat masuk akal ketika sstem pendidikan Nasional Indonesia berkiblat kepada sistem pendidikan Barat.
  2. Sistem pendidikan yang ada harus memadukan seluruh unsur pembentuk sistem pendidikan yang unggul dalam hal ini, setidaknya ada 3 hal yang harus menjadi perhatian. Pertama, sinergi antara sekolah, mayarakat, dan keluarga. Pendidikan yang integral harus melibatkan tiga unsur diatas. Sebab ketiga unsur diatas menggambarkan kondisi faktual objektif. Saat ini ketiga unsur tersebut belum berjalan secara sinergis disamping masing-masing unsur tersebut juga belum berfungsi secara benar.
  3. Kondisi di Indonesia masih banyak ditemui anak-anak usia sekolah yang masih berada dijalanan atau tidak mampu bersekolah karena ketiadaan biaya, meski pada dasarnya pemerintah memilki kewajiban untuk membuat mereka mendapatkan penddikan karena itu adalah bagian dari hak mereka.

Sabtu, 14 November 2009

Pendektan historis

Yang dimaksud dengan pendekatan historis adalah meninjau suatu permasalahan dari sudut tinjauan sejarah dan menjawab permasalahan serta menganalisisnya dengan menggunakan metode analisis sejarah.Sejarah atau historis adalah studi yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa atau kejadian masa lalu yang menyangkut kejadian atau keadaan yang sebenarnya.