Jumat, 08 Januari 2010

Pendekatan Antropologi Dalam Perpektif Islam

PENDEKATAN ANTROPOLOGI

DALAM KAJIAN ISLAM

MAKALAH

Studi Islam

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mandiri

Pada Program Studi Pendidikan Islam

Dosen : Prof. Dr. Adang Djumhur S., M.Ag.

Oleh :

Kusnoto

NIM : 505920012

Psikologi Pendidikan Islam (PPI)

PASCASARJANA

IAIN SYEKH NURJATI CIREBON

2009 / 2010

PENDEKATAN ANTROPOLOGI

DALAM KAJIAN ISLAM

Oleh. Kusnoto

Antropologi, sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia, menjadi sangat penting untuk memahami agama. Antropologi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk dapat memahami perbedaaan kebudayaan manusia. Dibekali dengan pendekatan yang holistik dan komitmen antropologi akan pemahaman tentang manusia, maka sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnya dengan berbagai budaya. Nurcholish Madjid mengungkapkan bahwa pendekatan antropologis sangat penting untuk memahami agama Islam, karena konsep manusia sebagai ‘khalifah’ (wakil Tuhan) di bumi, misalnya, merupakan simbol akan pentingnya posisi manusia dalam Islam. Posisi penting manusia dalam Islam juga mengindikasikan bahwa sesungguhnya persoalan utama dalam memahami agama Islam adalah bagaimana memahami manusia. Persoalan-persoalan yang dialami manusia adalah sesungguhnya persoalan agama yang sebenarnya. Pergumulan dalam kehidupan kemanusiaan pada dasarnya adalah pergumulan keagamaannya.

Para antropolog menjelaskan keberadaan agama dalam kehidupan manusia dengan membedakan apa yang mereka sebut sebagai common sense dan religious mencatau mystical event. Dalam satu sisi common sense mencerminkan sehari-hari yang biasa diselesaikan dengan pertimbangan rasional ataupun dengan bantuan teknologi, sementara itu religious sense adalah kegiatan atau kejadian yang terjadi di luar jangkauan kemampuan nalar maupun teknologi. Penjelasan lain misalnya yang diungkapkan oleh emile Durkheim tentang fungsi agama sebagai penguat solidaritas sosial, atau Sigmund Freud yang mengungkap posisi penting agama dalam penyeimbang gejala kejiwaan manusia, sesungguhnya mencerminkan betapa agama begitu penting bagi eksistensi manusia. Walaupun harus disadari pula bahwa usaha-usaha manusia untuk menafikan agama juga sering muncul dan juga menjadi fenomena global masyarakat. Dua sisi kajian ini, usaha untuk memahami agama dan menegasi eksistensi agama, sesungguhnya menggambarkan betapa kajian tentang agama adalah sebagai persoalan universal manusia.

Dengan demikian memahami Islam yang telah berproses dalam sejarah dan budaya tidak akan lengkap tanpa memahami manusia, karena realitas keagamaan sesungguhnya adalah realitas kemanusiaan yang mengejawantah dalam dunia nyata. Terlebih dari itu, makna hakiki dari keberagamaan adalah terletak pada interpretasi dan pengamalan agama. Oleh karena itu, antropologi sangat diperlukan untuk memahami Islam, sebagai alat untuk memahami realitas kemanusiaan dan memahami Islam yang telah dipraktikan-Islam that is practiced-yang menjadi gambaran sesungguhnya dari keberagaman manusia.

Di Indonesia usaha para antroplog untuk memahami hubungan agama dan sosial telah banyak dilakukan. Barangkali karya Clifford Geertz The Religion of Java yang ditulis pada awal 1960an menjadi karya yang popular sekaligus penting bagi diskusi tentang agama di Indonesia khususnya di Jawa. Pandangan Geertz yang menungkapkan tentang adanya trikotomi abangan, santri dan priyayi di dalam masyarakat Jawa, ternyata telah mmpengaruhi banyak orang dalam melakukan analisis baik tentang hubungan antara agama khususnya Islam dan budaya di jawa, pandangan Geertz telah mengilhami banyak orang untuk melihat lebih mendalam tentang interrelasi antar keduanya. Keterpengaruhan itu bisa dilihat dari beberapa pandangan yang mencoba menerapkan kerangka berfikir Geertz ataupun mereka yang ingin melakukan kritik terhadap wacana Geertz. Pandangan trokotomi Geertz tentang pengelompokan masyarakat Jawa berdasar religiokulturalnya berpengaruh terhadap cara pandang para ahli dalam melihat hubungan agama dan polotik. Penjelasan Geertz tentang adanya pengelompokan masyarakat Jawa ke dalam kelompok sosial politik didasarkan pada orientasi ideolog keagamaan.

Walaupun Geertz mengkelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga kelompok, ketika dihadapkan pada realitas polotik, yang jelas-jelas menunjukan oposisinya adalah kelompok abangan dan santri. Pernyataan geertz bahwa abangan adalah kelompok masyarakat yang berbasis perdagangan dan priyayi yang dominant didalam birokrasi, ternyata mempunyai afiliasi politik yang berbeda. Kaum abangan lebih dekat dengan partai politik yang isu-isu kerakyatan priyayi dengan partai nasional, dan kaum santri memilih partai-partai yang memberikan perhatian besar terhadap masalah keagamaan.

Teori polittik aliran ini, menuarut bahtiar effendy memberikan arti penting terhadap wancana tentang hubungan antara agama khususnya agama Islam dan Negara. Teori politik aliran dapat digunakan untuk memberikan penjelasan yang baik mengenai salah satu dasar (basis) pengelompokan religio-sosial di Indonesia. Karya Geertz ini ini disebut untuk sekedar memberikan ilustrasi bahwa kajian antropologi di Indoesia telah berhasil memberikan wancana tersendiri tentang hubungan agama dan masyarakat secara luas.

Antropologi yang melihat langsung secara langsung secara detail hubungan langsung antara agama dan masyarakat dalam tataran grassroot memberikan langsung informasi yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat. Melihat agama dimasyarakat, bagi antropologi adalah melihat bagaimana agama dipraktikan, diinterprestasi , dan diyakini oleh penganutnya. Jadi pembahasan tentang bagaimana hubungan agama dan budaya sangat penting untuk melihat agama yang dipraktikan. Kepentingan untuk melihat agama dalam masyarakat juga sangat penting jika dikaitkan dengan wancana posmodemisme yang berkembang belakangan ini. Walaupun para ilmuwan sosial masih mendebatkan apakah yang disebut sebagai posmodermis adalah “Fenomena” atau sebuah kerangka “discontruction theory”, mereka bersepakat tentang bangkitnnya dalam arti diakuinya kembali local knowledge sebagai sebuah kebenaran. Budaya lokal dalam percaturan dunia global. Bagi ahli politik, misalnya apa yang di sinyalir oleh fukuyama dengan klaimnya The End of History and the last Man, globalisasi berarti adalah diterimanya sistem demokrasi liberal sebagai satu sistem yang baik dipakai.

Bagi ahli ekonomi, wujudnya sistem moneter ala Keynesian telah membuktikan bahwa dunia perekonomian menganut satu sistem. Penggunaan alat telekomunikasi dan computer dengan internetrnya dapat juga membuktikan bahwa globalisasi telah mencapai pada satu kesepakatan bersama. Namun bagi ilmu sosial, utamanya mereka yang terlibat langsung urusan dengan budaya seperrti antropologi, globalisasi mengimplikasikan makna yang lain. Terbukanya komunikasi dan ruang bagi dialog antar budaya memungkinkan masing-masing budaya untuk mengungkapkan atau memberikan alternatif terhadap kebenaran. Ungkapan terkenal James Clifford tentang runtuhnya : mercusuar “ untuk mengklaim suatu kenyataan dengan ukuran rasionalitas barat, menunjukan bangkitnya “ pengetahuan lokal “ di era posmoderisme. Artinya pertanyaan apakah globalisasi nanti akan juga menyatukan budaya dunia atau munculnya kembali budaya-budaya lokal dalam pertarungan dunia, menjadi sangat penting.

Bassam Tibi mengungkapkan bahwa globalisasi memungkinkan manusia untuk melakukan dialog antar kebudayaan yang ada di dunia. Ia mengakui bahwa fenomena demokrasi adalah fenomena universal yang mau tidak mau mempengaruhi masyarakat lain yang tidak mempunyai tradisi demokrasi untuk mengadopsinya. Namun demikian hal itu tidak berarti bahwa budaya-budya lokal harus menyerah dan digantikan total dengan demokrasi. Bassam Tibbi tidak menafikkan bahwa ada perbedaan-perbedaan yang nyata antara penafsiran demokrasi di barat dan di wilayah lain sehingga muncul adanya demokrasi asia ( Asian Democracy ) atau demokrasi Islam ( Islamic Democracy ) . tetapi perbedaan itu bukan berarti akan menimbulkan konflik seperti apa yang disinyalir oleh Samuel hunting Ton. Ia lebih optimis melihat perbedaan itu sebagai awal dari keharusan untuk mengadakan dialog antar budaya untuk menularkan yang ia sebut sebagai “ international Morality “, suatu sistem nilai yang dihasilkan dari gabungan nilai-nilai terbaik dari budaya-budaya yang ada.

Jika kembali pada persoalan kajian antropologi bagi kajian islam maka dapat dilihat relevansinya dengan melihat dari dua hal. Pertama, penjelasan antropologi sangat berguna untuk membantu mempelajari agama secara empirik, artinya kajian agama harus diarahkan pada pemahaman aspek-aspek social kontexs yang melingkupi agama. Kajian agama secara empiris dapat diarahkan kedalam dua aspek yaitu manusia dan budaya. Pada dasarnya agama untuk membantu manusia untuk dapat memenuhi keinginan-keinginan kemanusiaan dan sekaligus mengarahkan kepada kehidupan yang lebih baik. Hali ini jelas menunjukan bahwa persoalan agama yang harus diamati secara empiris adalah tentang manusia. Tanpa memahami manusia maka pemahaman tentang agama tidak menjadi sempurna. Kemudian sebagai akibat dari pentingnya kajian manusia, maka mengkaji budaya dan masyarakat yang melingkupi kehidupan manusia juga menjadi sangat penting. Kebudayaan, sebagai system of meaning yang memberikan arti bagi kehidupan dan perilaku manusia, adalah aspek esensial manusia yang tidak dapat dipisahkan dalam memahami manusia. Mengutip Max Weber bahwa manusia adalah makhluk yang terjebak ke dalam jaring-jaring (web) kepentingan yang mereka buat sendiri, maka budaya adalah jaring-jaring itu. Geertz kemudian mengolaborasikan pengertian kebudayaan sebagai pola makna ( Petren of Meaning ) yang diwariskan secara histories tersimpan dalam simbol-simbol yang dengan itu manusia kemudian berkomunikasi, perilaku dan memandang kehidupan. Oleh karena itu analisis tentang kebudayaan dan tradisi antropologi tidaklah berupaya menemukan hokum-hukum seperti di ilmu-ilmu alam, melainkan kajian interpretative untuk mmencari makna ( meaning ).dipandang dari makna kebudayaan yang demikian maka agama sebagai sebuah sistem makna yang tersimpan dalam simbol-simbol suci sesungguhnya adalah pola makna yang diwarisi manusia sebagai etos dan juga worldviewnya. Clifford Geertz mengartikan etos sebagai : tone karakter dan kualitas dari kehidupan manusia yang berarti juga aspek moral maupun estetika mereka. : bagi Geertz agama telah memberikan karakter yang khusus bagi manusia yang kemudian mempengaruhi tingkah laku kesehariannya disamping itu agama meberikan gambaran realitas yang hendak dicapai oleh manusia. Berdasar pada pengertian ini agama sebagai etos telah memberikan karakter yang khusus bagu manusia, yang kemudian bisa memenuhi gambaran realitas kehidupan ( worldview )yang hendak dicapai oleh manusia.

Kedua kajian antropologi juga memberikan fasilitas bagi kajian islam untuk lebih melihat keagamaan pengaruh budaya dalam praktik islam. Pemahaman realitasnya nyata dalam sebuah masyarakat akan menemukan suatu kajian islam yang lebih empiris kajian agama dan rose kultur akan memberikan gambaran yanag variatif tentang hubungan agama dan budaya. Dengan pemahaman yang luas akan budaya-budaya yang ada memungkinkan kita untuk melakukan dialog dan barangkali tidak mustahil memunculkan satu gagasan moral dunia seperti apa yang di sebut Tibbi sebagai “ Internatioonal Morality”

Tradisi Antropologi dalam Kajian Agama

Bagi seorang antropolog, pentingya agama terletak pada kemampuanya untuk berlaku bagi seorang individu atau sebuah kelompok sebagai sumber konsep umum namun jelas, tentang dunia, diri, dan hubungan-hubungan diantara keduanya, disatu pihak yaitu dari segi agama itu, dan dilain pihak sumber disposisi_pihak, yaitu model dari segi agama itu, dan di lain pihak sumber disposisi-disposisi “mental” yang berakar, yang tak kurang jelasnya, yaitu model untuk segi agama itu.

Memahami bagaiman pandangan-pandangan manusia, betapapun tesiratnya tentang yang “sungguh nyata” dan disposisi-disposisi yang ditimbulkan dalam diri mereka mewarnai pengertian mereka akan masuk akal yang praktis, yang manusiawi dan yang bersifat moral. Sejauh mana pandangan-pandangan itu mewarnai hal-hal itu ( karena dalam banyak masyarakat efek-efek agama tempaknya terbatas, dalam masyarakat-masyarakat lain menguasai segalanya), seberapa dalamya pandangan-pandangan itu mewarnai hal-hal itu (karena beberapa orang dan beberapa kelompok orang tampaknya memakai agama mereka seenaknya saja sejauh dunia seular berjalan, sementara yang lain-lainnya tampak menerpakan iman mereka pada setiap kesempatan, tak peduli betapapun sepelehnya); dan beberapa efektifnya pandangan-pandangan itu mewarnai hal-hal itu ( karena lebarnya jurang antara apa yang dikehendaki agama dan apa yang dinyatanya dilakukan seorang merupakan sesuatu yang bervariasi dari kebudayaan-kebudayaan) semua ini merupakan soal-sioal yang sangat penting dalam sosialogi komperatif dan psikologi agama. Bahkan taraf perkembaangan sistem-sistem religious itu semakin amat bervariasi, dan tidak semata-mata berdasarkan pada suatu basis evolusioner sederhana.

Dalam satu masyarakat, taraf penjelasan rumusan-rumusan simbolis tentang kualitas akhir bisa mencapai taraf-taraf kompeksitas dan uraian sistematis yang luar biasa; dalam masyarakat-masyarakat lainnya yang secara tak kurang berkembangnya, perumusan-perumusan itu tetap tinggal primitive dalam arti sesungguhnya, hamper tidak lebih dari pada tumpukan-tumpukan kepercayaan-kepercayaan awal yang fragmentis dan gambaran-gambaran yang terisolasi, tentang refleks-refleks yang dikeramatkan dan piktograf-piktograf spiritual.

Studi antropologis mengenai agama dengan demikian merupakan suatu operasi dua tahap. Pertama, suatu analisis atas sistem makna-makna yang terkandung di dalam symbol- simbol yang meliputi agama tertentu, dan kedua, mengaitkan sistem-sistem ini pada struktur sosial dan proses-proses psikologis.

Daftar Pustaka

Islamic College for Advanced Studies, Jkarta.

Murtada Mutahari, 1998, Perspektif Al Qur’an Tentang Manusia dan Agama, Bandung, Mizan.

Nurcholis Madjid, 2000, Islam Agama Peradaban, Jakarta, Paramadina.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar